RSS

TATA CARA PERNIKAHAN ISLAMI (Sebuah Ibadah yang Nyaris Terlupakan)

Bismillahirrahmanirrahim

 Manusia adalah mahluk ciptaan Allah swt yang paling sempurna penciptaannya (QS. At Tiin : 4)

Kehidupan yang diberikan Allah untuk manusia adalah kehidupan yang bernilai ibadah, sebagaimana firman-Nya :

 “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku” (QS. Adz Dzaariyaat(51):56)

Dengan demikian, apapun segi yang dijalani manusia dalam kehidupannya adalah ibadah, juga termasuk masalah Pernikahan. Informasi ini bisa kita dapat dari hadits Rasulullah saw yang artinya :

“Manakala seseorang telah beristri, nerarti telah menyempurnakan separuh dien, maka takutlah kepada Allah dan sempurnakanlah separuh yang lain“(HR. Baihaqi), dan di hadits lain dikatakan “……Demi Allah, saya lebih takut dan lebih bertaqwa kepada Allah dibanding kamu. Tetapi saya shaum dan berbuka, saya shalat dan tidur dan saya menikah. Barang siapa yang tidak mengikuti sunnahku, tidak termasuk golonganku.”(HR. Bukhari Muslim)

Semua ibadah yang bernilai di sisi Allah dan sekaligus diterima-Nya (insya Allah) adalah ibadah yang memenuhi persyaratan yang telah Dia tentukan, yaitu LILLAHI, BILLAHI, dan ILLALLAHI.

 

LILLAHI

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw ditegaskan bahwa:

“Sesungguhnya semua amal itu tergantung niatnya dan bahwasanya apa yang diperoleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya...” (HR. Bukhari-Muslim)

Oleh karena itu, hendaknya manusia meniatkan pernikahannya hanya karena Allah saja (ILLAHI), bukan karena hal lain (seperti status sosial, kekayaan,dll). Insya Allah pernikahan seperti ini diterima Allah sebagai ibadah (dengan tidak melupakan dua syarat lainnya), yang menjadikan Allah ridha kepada keduanya, tetapi jika tidak maka yang akan terjadi adalah sebaliknya.

BILLAHI

Dalam QS Al Mulk ayat 2, Allah swt berfirman :

“….supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya…”

Dalam tafsirannya dikatakan bahwa yang disebut Ahasanu ‘amalan’ memiliki dua syarat, yaitu :

1.  Niat atau tujuan diadakannya walimatul ‘ursy (resepsi pernikahan) bukan untuk berfoya-foya, tetapi untuk diketahui oleh masyarakat sehingga tidak akan timbul fitnah. bukan pula untuk pamer (riya’ atau sum’ah) akan tetapi untuk menghidupkan sunnah Rasulullah dengan melaksanakan pernikahan Islami, sehingga dapat dijadikan contoh oleh yang lain. Hal ini dikarenakan tata cara pernikahan Rasulullah saw (yang masyhur dijamannya) serta beberapa generasi sesudahnya sudah menjadi barang langka bahkan aneh. Bahkan sejumlah besar kaum muslimin menolak untuk membudayakannya dengan beranggapan bahwa hal tersebut hanya sekedar kebudayaan Arab dan bukan sunnah. Padahal, jika memang demikian halnya, Rasulullah tidak akan menjadikan tata cara ini sebagai ciri khas pernikahan-pernikahannya (juga ketika menikah dengan wanita-wanita non-Arab, seperti dengan Maria al Qibthiyah(mesir) atau Shafiyah binti Huyai bin Akhtab(Yahudi). Tetapi kalaulah cara seperti ini tetap dianggap sebagai “kebudayaan Arab”, kebudayaan inilah yang lebih pantas kita ambil sebagai tata cara pernikahan ketimbang kebudayaan Barat, yang jelas-jelas sangat jauh dari nilai-nilai yang ada dalam Islam, seperti pakaian yang tidak menutup aurat secara sempurna, standing party (makan sambil berdiri), ataupun ikhtilat (bercampur baur tamu laki-laki dan perempuan) dll. Sebagian lagi mengakui bahwa pernikahan seperti ini adalah sunnah Rasulullah saw tetapi mereka enggan membudayakannya dengan alasan tidak biasa atau cuma sekedar khawatir dicerca oleh kaum muslimin yang lain karena dianggap berani tampil beda. Padahal disinilah tantangannya, disaat orang lain tidak berani menghidupkan sunnah, kita harus berani menghidupkannya, jika ridha Allah yang ingin dicapai dan lagi pula siapa lagi yang akan memakai tata cara pernikahan Islami kalau bukan kita, ummat Islam sendiri ?

2.  Pelaksanaan walimatul ‘ursy (resepsi pernikahan) haruslah memperhatikan hal-hal berikut :

a.  Tidak mencampur adukkan antara tamu laki-laki dan perempuan, termasuk mempelai pria dan wanitanya.

Tujuan dari hal ini adalah untuk menghindari timbulnya kesempatan berma’siyat /fitnah, karena kita telah ketahui bahwa baik mempelai wanita ataupun para tamu wanitanya akan tampil di luar kebiasaan sehari-hari, bahkan masih banyak diantara mereka tampil tidak Islami, pakaian yang tidak menutup aurat, make-up yang berlebihan dan parfum yang semerbak. Jika tamu laki-laki disatukan dengan mereka maka (na’udzubillah) akan timbullah kema’siyatan (mata, hati telinga hidung dll) dan akan sulit sekali mengamalkan perintah Allah swt untuk menundukkan pandangan (QS An Nuur :30-31). Belum lagi dengan campur baur ini akan membuka peluang untuk bersalaman dengan non-muhrim, padahal Rasulullah saw secara tegas melarang dengan sabdanya : “Tidak pernah aku menyentuh tangan perempuan asing (non muhrim)”(HR. Thabrani)

b.  Tidak menyajikan hiburan yang tidak Islami dan hidangan yang berlebih-lebihan.

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa pernikahan adalah sebuah ibadah, maka kemurniannya harus dijaga jangan sampai tercampur baur antara ibadah dengan hiburan-hiburan yang tidak Islami dan hidangan yang berlebihan (yang bersifat kebhatilan). Allah swt berfirman :

Dan jangan campur baurkan yang haq dengan yang bathil, dan jangan menyembunyikan yang haq itu sedang kamu mengetahui” (Al Baqarah :42)

Mengapa hiburan seperti musik-musik bersyair yang membuat lalai dzikrullah dikatakan bathil? Karena Rasulullah bersabda :

Barangsiapa duduk (memandang) kepada penyanyi/penari wanita dan mendengarkannya, Allah akan menumpahkan timah mendidih dikedua telinganya dihari kiamat”. (HR. Ibnu Asakir).

Dan hadits lain menyatakan :

Sesungguhnya Allah swt mengutusku dan memerintahkan akau untuk menghapus alat-alat musik, khamr, dan berhala-berhala yang disembah dimasa jahiliyah”(HR. Ahmad)

Kaum muslimin sebenarnya telah memiliki alternatif hiburan Islami yaitu nasyid (lagu-lagu yang syairnya mengingatkan manusia akan Allah dan keagungan-Nya) tanpa iringan alat musik (acapella) atau hanya diiringi Duf (sejenis rebana yang diperbolehkan Rasulullah untiuk meramaikan walimah), tentu dengan batasan penyanyi wanita boleh tampil dihadapan para wanita, karena suara wanita yang bernasyid serta penampilan mereka adalah aurat bagi laki-laki non-muhrimnya. Untuk hidangan, hendaknya tidak tabdzir (boros) dan kurang jelas kemanfaatannya.

3.  Hendaknya bagi parta tamu untuk memberikan doa kepada kedua mempelai dengan do’a yang diajarkan Rasulullah saw :

Semoga Allh melimpahkan berkah kepadamu, semoga Ia melimpahkan berkah atasmu dan menghimpun antara kalian di dalam kebaikan” (HR. Turmudzi)

ILALLAHI

Tujuan menikah hanyalah untuk mendapatkan ridha-Nya, bukan untuk tujuan-tujuan lain yang bersifat duniawi/materi. Dengan melaksanakan walimah yang Islami, yang memenuhi persyaratan-Nya lillahi, billahi, ilallahi, insya Allah akan diterima-Nya sebagai ibadah sekaligus mendapat ridha-Nya, Amin.

Demikianlah semoga bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi contoh bagi calon pengantin. Amin ^_^

 
Leave a comment

Posted by on June 18, 2011 in Tausyiah

 

Bu, Siapa Jodoh-q…???

Pada suatu hari, ada seorang anak yang bertanya kepada ibunya… “Bu, jika aq akan menikah kelak, suami seperti apa yang mesti q pilih?”

Sang Ibupun menjawab, “Nak, jodohmu sudah ada yang mengatur. Jangan pernah kau khawatir. Khawatirlah jika kau belum bisa memperbaiki dirimu. Khawatirlah jika ibadahmu hanya untuk dilihat olehnya”.

Sang anak pun mendengarkan ibunya dengan seksama…

Kemudian sang ibu melanjutkan kata-katanya, “Nak, Jodoh itu di tangan Alloh, Dia yang memberikannya untukmu. Perbaikilah akhlakmu, maka kau akan mendapatkan suami pujaan hatimu. Luruskan niatmu, maka kau akan mendapatkan pangeran dunia akheratmu. Dan sempurnakan ikhtiarmu, maka jodohmu akan mendekat padamu”.

Sang anak pun mulai mengerti dan tersenyum di pelukan ibunya…

wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”  (QS An Nur:26)

Tidak ada manusia yang sempurna, marilah bersama-sama kita perbaiki diri luar dan dalam, jasmani dan rohani…. ^_^

 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2011 in Renungan

 

Mengingat Alloh Swt…

Sebuah cerita tentang seseorang yang bangun tidur dan merenungkan kunci sukses hidupnya…

Jendela kamar berkata : “Lihatlah dunia luar”

Langit-langit kamar berkata : “Bercita-citalah setinggi-tingginya”

Jam dinding berdetak “Setiap menit itu sangat berharga”

Cermin bergumam “Berkacalah sebelum bertindak”

Kalender berbicara “Jangan tunggu sampai besok..!!!”

Pintu berteriak “Bukalah hidupmu dengan semangat dan bergeraklah…”

Tapi yang harus diperhatikan adalah pesan bijak dari sang lantai, “Berlutut, bersujud dan berdoalah pada Alloh SWT”

 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2011 in Renungan

 

Yuk, Kita Menyebarkan Salam… ^_^

Salam adalah salah satu dari asma Alloh  Swt. Mengucapkan salam, baik kepada orang yang kita kenal maupun tidak, akan membangkitkan rasa aman, mempererat ikatan, dan menumbuhkan rasa cinta.

Dari Abu Hurairah ra., Ia berkata bahwa Rasul bersabda : “Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai (karena Alloh). Apakah kamu mau jika aku tunjukkan padamu satu perkara yang jika kamu kerjakan perkara itu maka kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kamu!” (HR. Muslim).

Dengan mengucap dan menjawab salam, kita dapat mengenal orang lain dan mengetahui tingkat konsistensi mereka terhadap ajaran agama. Sebagian orang ada yang mengucapkan salam sebagaimana seorang komandan militer memerintah anak buahnya, padahal mengucapkan salam merupakan ucapan sealamat yang tersusun dari untaian kata-kata yang sangat indah, yakni “assalam” (kesejahteraan), “ar-rahmah” (rahmat), dan “albarakah” (berkah).

Ucapan salam hendaknya keluar dari lubuk hati yang paling dalam dan dikeluarkan dengan disertai perasaan kasih sayang, karena tujuan dari sebuah perkenalan adalah pernyataan hati.

Dari Abu Dzar ra., Ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah sekali-kali kamu meremehkan kebaikan, meskipun hanya berupa keceriaan wajah tatkala bertemu dengan saudaramu” (HR. Muslim).

Menjawab salam hukumnya wajib. Kita akan dapat membuat orang yang mengucap salam itu bersimpati kepada kita, yaitu tatkala dengan sikap tanggap kita menjawab ucapan salam tersebut dengan ucapan salam yang lebih baik dan dengan tatapan wajah yang dihiasi dengan senyuman. Alloh berfirman : “Apabila kalian diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Alloh selalu membuat perhitungan atas tiap-tiap sesuatu“. (An-Nisa : 86)

Mengucapkan salam tidak terbatas pada orang yang kita kenal saja, tetapi lebih dianjurkan kepada orang yang belum kita kenal agar lebih memperluas perkenalan dan ukhuwah islamiyah.

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Saw., “Diantara ajaran Islam, manakah yang paling baik?” Rasulullah Saw menjawab, “Memberi makan dan mengucap salam kepada orang yang kamu kenal dan tidak kamu kenal“. (Muttafaqun ‘Alaih)

Dari Thufail bin Abu Ka’ab ra. bahwa ia datang menemui Abdullah bin Umar ra., lalu keduanya pergi ke pasar. Thufail menceritakan, “Tidaklah Ibnu Umar melewati orang di tengah jalan atau menjual barang dagangan atau orang-orang lain, kecuali ia mengucap salam kepada mereka“. Pada hari lain saya datang ke tempat Abdullah bin Umar, kemudian ia mengajakku kepasar. Kemudian saya menjawab, “Apa yang akan anda perbuat di pasar? Anda tidak membeli, tidak bertanya tentang harga barang, tidak menawar dan tidak duduk di tempat-tempat duduk (yang ada di pasar)?. Lebih baik kita duduk-duduk di sini dan bercakap-cakap”. Abdullah bin Umar menjawab, “Wahai Abu Bathan (panggilan bagi Thufail ra), kita berjalan demi mengucapkan salam pada setiap orang yang kita jumpai”. (HR. Malik dan Al Muwatha’ dengan sanad yang shahih)

Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasullullah Saw bersabda, “Yang mengendarai kendaraan hendaklah mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki, yang berjalan kaki hendaklah mengucapkan salam kepada yang duduk, yang sedikit mengucapkan salam kepada yang banyak, dan yang muda mengucapkan salam kepada yang tua. Keutamaan orang yang lebih dahulu mengucapkan salam adalah sangat besar“.

Dari Umamah ra., Ia berkata bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasul, diantara 2 orang yang bertemu, manakah yang lebih dahulu mengucapkan salam?” Kemudian Rasul menjawab, “Yang lebih mencinta Alloh Swt“.

Dari Abdullah bin Mas’ud ra., Ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, ‘As-salam‘ adalah salah satu dari asma Alloh yang diletakkan di bumi, maka sebarkan salam diantara kamu”. (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, yuk kita sebarkan salam diantara kita.

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh… ^_^

 
Leave a comment

Posted by on May 9, 2011 in Tausyiah

 

Singa vs Rusa

Di setiap pagi di hutan Afrika, rusa harus berlari sekencang-kencangnya untuk tidak menjadi yang paling lambat agar tidak diburu oleh singa,,,

Dan di setiap pagi di hutan yang sama, singa pun harus berlari secepat-cepatnya untuk bisa berburu rusa yang paling lambat berlari agar singa tidak mati kelaparan,,,

Tidak peduli kau menjadi rusa ataupun singa, tapi yang pasti di setiap pagi kau harus berlari secepat-secepatnya untuk bisa bertahan hidup…

Keep spirit…… ^_^

 
Leave a comment

Posted by on May 8, 2011 in Motivasi