RSS

TATA CARA PERNIKAHAN ISLAMI (Sebuah Ibadah yang Nyaris Terlupakan)

18 Jun

Bismillahirrahmanirrahim

 Manusia adalah mahluk ciptaan Allah swt yang paling sempurna penciptaannya (QS. At Tiin : 4)

Kehidupan yang diberikan Allah untuk manusia adalah kehidupan yang bernilai ibadah, sebagaimana firman-Nya :

 “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku” (QS. Adz Dzaariyaat(51):56)

Dengan demikian, apapun segi yang dijalani manusia dalam kehidupannya adalah ibadah, juga termasuk masalah Pernikahan. Informasi ini bisa kita dapat dari hadits Rasulullah saw yang artinya :

“Manakala seseorang telah beristri, nerarti telah menyempurnakan separuh dien, maka takutlah kepada Allah dan sempurnakanlah separuh yang lain“(HR. Baihaqi), dan di hadits lain dikatakan “……Demi Allah, saya lebih takut dan lebih bertaqwa kepada Allah dibanding kamu. Tetapi saya shaum dan berbuka, saya shalat dan tidur dan saya menikah. Barang siapa yang tidak mengikuti sunnahku, tidak termasuk golonganku.”(HR. Bukhari Muslim)

Semua ibadah yang bernilai di sisi Allah dan sekaligus diterima-Nya (insya Allah) adalah ibadah yang memenuhi persyaratan yang telah Dia tentukan, yaitu LILLAHI, BILLAHI, dan ILLALLAHI.

 

LILLAHI

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw ditegaskan bahwa:

“Sesungguhnya semua amal itu tergantung niatnya dan bahwasanya apa yang diperoleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya...” (HR. Bukhari-Muslim)

Oleh karena itu, hendaknya manusia meniatkan pernikahannya hanya karena Allah saja (ILLAHI), bukan karena hal lain (seperti status sosial, kekayaan,dll). Insya Allah pernikahan seperti ini diterima Allah sebagai ibadah (dengan tidak melupakan dua syarat lainnya), yang menjadikan Allah ridha kepada keduanya, tetapi jika tidak maka yang akan terjadi adalah sebaliknya.

BILLAHI

Dalam QS Al Mulk ayat 2, Allah swt berfirman :

“….supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya…”

Dalam tafsirannya dikatakan bahwa yang disebut Ahasanu ‘amalan’ memiliki dua syarat, yaitu :

1.  Niat atau tujuan diadakannya walimatul ‘ursy (resepsi pernikahan) bukan untuk berfoya-foya, tetapi untuk diketahui oleh masyarakat sehingga tidak akan timbul fitnah. bukan pula untuk pamer (riya’ atau sum’ah) akan tetapi untuk menghidupkan sunnah Rasulullah dengan melaksanakan pernikahan Islami, sehingga dapat dijadikan contoh oleh yang lain. Hal ini dikarenakan tata cara pernikahan Rasulullah saw (yang masyhur dijamannya) serta beberapa generasi sesudahnya sudah menjadi barang langka bahkan aneh. Bahkan sejumlah besar kaum muslimin menolak untuk membudayakannya dengan beranggapan bahwa hal tersebut hanya sekedar kebudayaan Arab dan bukan sunnah. Padahal, jika memang demikian halnya, Rasulullah tidak akan menjadikan tata cara ini sebagai ciri khas pernikahan-pernikahannya (juga ketika menikah dengan wanita-wanita non-Arab, seperti dengan Maria al Qibthiyah(mesir) atau Shafiyah binti Huyai bin Akhtab(Yahudi). Tetapi kalaulah cara seperti ini tetap dianggap sebagai “kebudayaan Arab”, kebudayaan inilah yang lebih pantas kita ambil sebagai tata cara pernikahan ketimbang kebudayaan Barat, yang jelas-jelas sangat jauh dari nilai-nilai yang ada dalam Islam, seperti pakaian yang tidak menutup aurat secara sempurna, standing party (makan sambil berdiri), ataupun ikhtilat (bercampur baur tamu laki-laki dan perempuan) dll. Sebagian lagi mengakui bahwa pernikahan seperti ini adalah sunnah Rasulullah saw tetapi mereka enggan membudayakannya dengan alasan tidak biasa atau cuma sekedar khawatir dicerca oleh kaum muslimin yang lain karena dianggap berani tampil beda. Padahal disinilah tantangannya, disaat orang lain tidak berani menghidupkan sunnah, kita harus berani menghidupkannya, jika ridha Allah yang ingin dicapai dan lagi pula siapa lagi yang akan memakai tata cara pernikahan Islami kalau bukan kita, ummat Islam sendiri ?

2.  Pelaksanaan walimatul ‘ursy (resepsi pernikahan) haruslah memperhatikan hal-hal berikut :

a.  Tidak mencampur adukkan antara tamu laki-laki dan perempuan, termasuk mempelai pria dan wanitanya.

Tujuan dari hal ini adalah untuk menghindari timbulnya kesempatan berma’siyat /fitnah, karena kita telah ketahui bahwa baik mempelai wanita ataupun para tamu wanitanya akan tampil di luar kebiasaan sehari-hari, bahkan masih banyak diantara mereka tampil tidak Islami, pakaian yang tidak menutup aurat, make-up yang berlebihan dan parfum yang semerbak. Jika tamu laki-laki disatukan dengan mereka maka (na’udzubillah) akan timbullah kema’siyatan (mata, hati telinga hidung dll) dan akan sulit sekali mengamalkan perintah Allah swt untuk menundukkan pandangan (QS An Nuur :30-31). Belum lagi dengan campur baur ini akan membuka peluang untuk bersalaman dengan non-muhrim, padahal Rasulullah saw secara tegas melarang dengan sabdanya : “Tidak pernah aku menyentuh tangan perempuan asing (non muhrim)”(HR. Thabrani)

b.  Tidak menyajikan hiburan yang tidak Islami dan hidangan yang berlebih-lebihan.

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa pernikahan adalah sebuah ibadah, maka kemurniannya harus dijaga jangan sampai tercampur baur antara ibadah dengan hiburan-hiburan yang tidak Islami dan hidangan yang berlebihan (yang bersifat kebhatilan). Allah swt berfirman :

Dan jangan campur baurkan yang haq dengan yang bathil, dan jangan menyembunyikan yang haq itu sedang kamu mengetahui” (Al Baqarah :42)

Mengapa hiburan seperti musik-musik bersyair yang membuat lalai dzikrullah dikatakan bathil? Karena Rasulullah bersabda :

Barangsiapa duduk (memandang) kepada penyanyi/penari wanita dan mendengarkannya, Allah akan menumpahkan timah mendidih dikedua telinganya dihari kiamat”. (HR. Ibnu Asakir).

Dan hadits lain menyatakan :

Sesungguhnya Allah swt mengutusku dan memerintahkan akau untuk menghapus alat-alat musik, khamr, dan berhala-berhala yang disembah dimasa jahiliyah”(HR. Ahmad)

Kaum muslimin sebenarnya telah memiliki alternatif hiburan Islami yaitu nasyid (lagu-lagu yang syairnya mengingatkan manusia akan Allah dan keagungan-Nya) tanpa iringan alat musik (acapella) atau hanya diiringi Duf (sejenis rebana yang diperbolehkan Rasulullah untiuk meramaikan walimah), tentu dengan batasan penyanyi wanita boleh tampil dihadapan para wanita, karena suara wanita yang bernasyid serta penampilan mereka adalah aurat bagi laki-laki non-muhrimnya. Untuk hidangan, hendaknya tidak tabdzir (boros) dan kurang jelas kemanfaatannya.

3.  Hendaknya bagi parta tamu untuk memberikan doa kepada kedua mempelai dengan do’a yang diajarkan Rasulullah saw :

Semoga Allh melimpahkan berkah kepadamu, semoga Ia melimpahkan berkah atasmu dan menghimpun antara kalian di dalam kebaikan” (HR. Turmudzi)

ILALLAHI

Tujuan menikah hanyalah untuk mendapatkan ridha-Nya, bukan untuk tujuan-tujuan lain yang bersifat duniawi/materi. Dengan melaksanakan walimah yang Islami, yang memenuhi persyaratan-Nya lillahi, billahi, ilallahi, insya Allah akan diterima-Nya sebagai ibadah sekaligus mendapat ridha-Nya, Amin.

Demikianlah semoga bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi contoh bagi calon pengantin. Amin ^_^

 
Leave a comment

Posted by on June 18, 2011 in Tausyiah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: